Nama Gabriel Batistuta identik dengan ketajaman di depan gawang. Julukan Batigol melekat erat berkat ratusan gol yang ia cetak sepanjang karier bersama Fiorentina, AS Roma, dan Timnas Argentina.
Namun, di balik reputasinya sebagai salah satu striker terbaik dalam sejarah sepak bola, tersimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui.
Dalam wawancara di podcast Rio Ferdinand Presents, Batistuta mengungkap bahwa sepak bola bukanlah cita-citanya sejak kecil. Bahkan, ia pernah bermimpi menjadi seorang dokter sebelum akhirnya memilih jalan yang mengubah hidupnya.
Gabriel Batistuta Tidak Pernah Bermimpi Menjadi Pesepak Bola
Berbeda dengan banyak pemain yang sejak kecil bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, Batistuta justru mengaku lebih menyukai berbagai cabang olahraga lain.
Saat masih kecil, ia aktif bermain basket, tenis, hingga bola tangan.
Menurut Batistuta, pengalaman di berbagai olahraga tersebut justru menjadi fondasi penting ketika akhirnya memutuskan menekuni sepak bola.
“Saya bermain basket sehingga belajar cara melompat. Saya bermain tenis sehingga belajar bergerak dengan cepat. Semua itu membantu saya ketika akhirnya memilih sepak bola,” ujar Batistuta.
Keterbatasan Ekonomi Mengubah Jalan Hidup Batistuta
Dalam wawancara tersebut, Batistuta mengungkapkan bahwa impian terbesarnya saat remaja adalah menjadi seorang dokter.
Namun, kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Ia kemudian melihat sepak bola sebagai kesempatan untuk mengubah masa depan sekaligus membantu membiayai pendidikannya.
“Saya ingin belajar. Saya ingin menjadi dokter. Tetapi keluarga saya tidak memiliki kondisi ekonomi yang baik. Saya harus melakukan sesuatu untuk membayar sekolah saya. Karena itulah saya mulai bermain sepak bola,” kenangnya.
Keputusan itu membuat Batistuta meninggalkan rumahnya dan pindah sekitar 500 kilometer ke Rosario demi mengejar peluang sebagai pemain profesional.
Marcelo Bielsa Jadi Sosok yang Mengubah Kariernya
Perjalanan ke Rosario mempertemukan Batistuta dengan salah satu pelatih paling berpengaruh dalam hidupnya, Marcelo Bielsa.
Saat itu Batistuta baru berusia 18 tahun dan mengaku sama sekali tidak memahami standar sepak bola profesional.
Di bawah arahan Bielsa, ia belajar berbagai hal mendasar yang kemudian membentuk mentalitasnya sebagai atlet elite.
“Saya harus belajar bagaimana berlari, bagaimana berlatih, bagaimana makan, semuanya.”
Batistuta mengakui bahwa pada awalnya para pemain muda kesulitan memahami metode latihan Bielsa karena dianggap terlalu maju.
Namun seiring waktu, mereka menyadari bahwa Bielsa sedang menunjukkan jalan menuju sepak bola profesional.
“Bagi saya, Bielsa adalah pelatih yang paling penting dalam karier saya,” ungkap Batistuta.
Awal Sulit Bersama Fiorentina
Meski kemudian dikenang sebagai legenda Fiorentina, Batistuta mengaku kehidupannya di Florence sama sekali tidak berjalan mulus.
Ia bahkan mengaku tidak langsung menyukai kota tersebut.
Sebaliknya, para pendukung Fiorentina juga belum menerima kehadirannya.
“Saya tidak menyukai Florence pada awalnya. Kota itu juga tidak langsung menyukai saya.”
Situasi semakin sulit karena saat itu Fiorentina belum menjadi klub papan atas Serie A.
Tim lebih banyak berjuang untuk bertahan dan belum mampu bersaing meraih gelar.
Mentalitas Jadi Kunci Lahirnya Batigol
Batistuta mengatakan satu hal yang membuatnya mampu bertahan melewati masa-masa sulit adalah pola pikir.
Ia terus mengingat alasan mengapa dirinya datang jauh dari Argentina.
Menurutnya, kesempatan bermain di Italia bisa menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
“Saya berkata kepada diri sendiri, saya sudah berada di sini, jauh dari rumah. Ini adalah kesempatan untuk menyelesaikan banyak masalah ekonomi.”
Sejak saat itu, Batistuta mengubah seluruh fokus hidupnya.
Ia mengaku hanya melakukan satu hal setiap hari.
“Bekerja, bekerja, bekerja. Berlatih, berlatih, berlatih.”
Ia juga terus mengingat semua pelajaran yang pernah diberikan Marcelo Bielsa.
Hasilnya mulai terlihat.
Perlahan Batistuta berkembang menjadi salah satu striker paling berbahaya di Serie A.
Kecintaan kepada Fiorentina Membuatnya Bertahan 10 Tahun
Seiring berjalannya waktu, hubungan Batistuta dengan kota Florence berubah total.
Ia mulai mencintai Fiorentina dan para suporternya.
Batistuta memahami bahwa para tifosi sangat merindukan gelar juara setelah bertahun-tahun menunggu kesuksesan.
Pemahaman itulah yang membuatnya bertahan selama satu dekade bersama Fiorentina, meski beberapa klub besar Eropa datang dengan tawaran yang lebih menggiurkan.
“Saya mulai mencintai Florence. Saya mulai mencintai para pendukung Fiorentina.”
“Saya memahami mereka ingin memenangkan sesuatu karena sudah lama tidak meraih trofi. Itulah yang membuat saya bertahan selama 10 tahun untuk mencoba memberikan mereka gelar”, ucap Batistuta.
Batigol Membuktikan Kesuksesan Dibangun dari Kerja Keras
Kisah Gabriel Batistuta menjadi bukti bahwa perjalanan menuju puncak tidak selalu dimulai dari mimpi menjadi pesepak bola.
Ia pernah bercita-cita menjadi dokter, hidup dalam keterbatasan ekonomi, harus meninggalkan keluarga di usia muda, hingga berjuang mendapatkan kepercayaan di Fiorentina.
Melalui disiplin, kerja keras, dan mentalitas pantang menyerah yang dibentuk oleh Marcelo Bielsa, Batistuta akhirnya menjelma menjadi Batigol, salah satu penyerang terbaik yang pernah menghiasi Serie A dan sepak bola dunia.
Hingga kini, nama Gabriel Batistuta tetap dikenang sebagai ikon Fiorentina.

