Killing Me Inside Re:union Rilis Senyawa dan Candu: Singel Comeback Onad Pasca Rehabilitasi

Killing Me Inside Re:union Rilis Senyawa dan Candu: Singel Comeback Onad Pasca Rehabilitasi

Killing Me Inside Re:union resmi membuka fase baru perjalanan musik mereka lewat perilisan single Senyawa dan Candu pada 13 Februari 2026.

Lagu ini menjadi karya perdana trio Onadio Leonardo (Onad), Sansan, dan Raka setelah vakum manggung sejak September 2025 lalu, sekaligus penanda kembalinya sang vokalis usai menjalani rehabilitasi selama tiga bulan.

Single tersebut langsung menarik perhatian karena berbeda cukup jauh dari katalog lama band emo asal Jakarta itu. Selain menghadirkan nuansa musik yang lebih pop, Senyawa dan Candu juga menjadi salah satu karya Killing Me Inside Re:union yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia secara penuh. Lagu ini memiliki makna mendalam karena ditulis Onad ketika dirinya berada di pusat rehabilitasi.

Onad menyebut proses kreatif tersebut berawal dari situasi yang tidak mudah. Ia mengaku menulis lagu sebagai cara menghadapi penyesalan pribadi.

“Ini adalah bentuk penyesalan terbesar saya karena membuat kesalahan fatal. Saat rehabilitasi, saya tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya saya menulis lagu lagi,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi yang diterima Mashable Indonesia.

Ia juga menegaskan bahwa lagu tersebut adalah karya paling jujur sepanjang kariernya. “Saya belum pernah membuat lagu sepersonal ini. Semuanya tentang saya,” kata Onad.

Dalam penggarapannya, Onad menulis sendiri seluruh lirik dan konsep dasar lagu. Sementara aransemen musik dikerjakan bersama Raka dan Sansan, dengan bantuan Rudye, eks personel Killing Me Inside yang masih terlibat dalam proses produksi. Menurut Onad, para rekan band langsung menyetujui materi tersebut meski berbeda dari gaya lama mereka.

“Mereka langsung menerima. Mereka bilang, ‘Ini kamu banget.’ Memang kami sudah lama tidak membuat lagu berbahasa Indonesia. Momennya terasa pas, saya baru keluar dari rehabilitasi, jadi kami memutuskan untuk lanjut,” tuturnya.

Senyawa dan Candu sekaligus menandai strategi rebranding Killing Me Inside Re:union. Setelah dikenal lewat era album The Tormented hingga fase pop rock di Biarlah, kini band tersebut mencoba pendekatan musikal yang lebih ringan dan emosional, lengkap dengan visual yang lebih cerah.

Onad mengakui bandnya memang telah lama mencoba membuat lagu berbahasa Indonesia, namun tidak pernah benar-benar menemukan formula yang cocok.

“Kami ingin melakukan rebranding lagi. Saya merasa ini ramuan Killing Me Inside Re:union yang paling pas, karena kami selalu gagal membuat lagu bahasa Indonesia. Akhirnya terjadi juga dan ini yang kami suka. Pop-nya Killing Me Inside Re:union seperti ini,” ujarnya.

Keputusan mengubah arah musikal bukan sekadar eksperimen sesaat. Mereka melihat single ini sebagai pembuka rangkaian proyek yang lebih besar sepanjang 2026. Killing Me Inside Re:union bahkan berencana merilis karya dengan format lebih panjang setelah lama hanya menghadirkan single.

“Killing Me biasanya merilis single saja. Sudah lama kami tidak mengeluarkan EP. Itu salah satu rencana kami. Yang jelas, prioritas saya tahun ini adalah Killing Me Inside Re:union,” kata Onad.

Kehadiran Senyawa dan Candu bukan hanya comeback band, tetapi juga perjalanan personal Onad yang dituangkan menjadi karya musik. Pendekatan lirik yang reflektif dan jujur menjadi pembeda utama dibanding lagu-lagu lama mereka yang identik dengan tema patah hati remaja.

Kini lagu tersebut sudah tersedia di berbagai platform streaming digital dan menjadi penanda bahwa Killing Me Inside Re:union tidak sekadar hadir lagi, melainkan mencoba membangun identitas baru, yang lebih dewasa, lebih personal, dan lebih dekat dengan realitas yang mereka alami.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *