FIFA World Cup 2026 akhirnya dimulai. Turnamen sepak bola terbesar di dunia yang biasanya selalu ditunggu jutaan orang dengan antusias luar biasa di Indonesia kini justru terasa sedikit berbeda.
Bukan berarti Piala Dunia 2026 kehilangan pamornya, tetapi ada perasaan yang sulit dijelaskan, hype-nya tidak sekuat edisi-edisi sebelumnya.
Dulu, ketika mendekati Piala Dunia, obrolan soal sepak bola ada di mana-mana. Grup WhatsApp ramai membahas prediksi juara, warung kopi penuh perdebatan soal line-up, bahkan lagu resmi turnamen pun sering terdengar di televisi, radio, sampai pusat perbelanjaan.
Kini? Rasanya gaung itu tidak terlalu terasa, setidaknya bagi banyak penggemar sepak bola di Indonesia.
Sebagai penulis, saya merasa ada banyak faktor yang membuat Piala Dunia 2026 terasa kurang “menggigit”. Salah satunya sederhana: tim favorit banyak orang tidak lolos.
Bagi penggemar sepak bola yang tumbuh dengan kejayaan timnas Italia, absennya Italia jelas meninggalkan lubang emosional yang besar.
Menyedihkan ketika harus menerima fakta bahwa kini ada satu generasi yang bahkan belum pernah melihat Italia tampil di Piala Dunia. Bagi fans Azzurri, ini bukan sekadar statistik, ini soal nostalgia yang hilang.
Di Indonesia sendiri, ada faktor lain yang tak kalah besar: realitas hidup sehari-hari. Jujur saja, banyak orang sudah terlalu lelah dengan rutinitas dan situasi sosial-ekonomi yang kadang terasa absurd.
Harga kebutuhan naik, berita politik tak pernah sepi drama, dan tingkah para pejabat kadang lebih menghibur daripada acara komedi. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika sebagian orang tidak lagi punya energi emosional untuk terlalu larut dalam euforia sepak bola.
Ada juga faktor usia. Ini mungkin terdengar klise, tetapi nyata. Semakin bertambah umur, prioritas hidup ikut berubah. Dulu rela begadang sampai subuh demi menonton pertandingan fase grup yang bahkan tidak melibatkan tim favorit. Sekarang? Banyak yang memilih tidur karena besok harus kerja atau mengurus keluarga.
Kalau bicara nostalgia, saya pribadi setuju bahwa Piala Dunia 2010 dan Piala Dunia 2014 adalah dua edisi yang hype-nya luar biasa. Ada sesuatu yang magis saat menonton pertandingan sambil sahur.
Atmosfernya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Vuvuzela di South Africa 2010 mungkin mengganggu telinga, tetapi justru itu yang bikin ikonik. Lalu Brazil 2014 menghadirkan drama, air mata, dan momen legendaris yang masih dikenang sampai sekarang.
Piala Dunia 2026 juga menghadapi tantangan dari sisi tuan rumah. Banyak penggemar yang kurang antusias dengan dominasi United States sebagai pusat penyelenggaraan.
Sebagian menganggap atmosfer sepak bola di sana tidak sehangat Eropa atau Amerika Latin. Belum lagi kritik terhadap FIFA yang sering dianggap punya standar ganda dalam mengambil kebijakan.
Di sisi lain, era digital juga mengubah cara kita menikmati sepak bola. Anak muda sekarang punya banyak distraksi media sosial, game online, streaming, konten pendek, sehingga sepak bola tidak lagi otomatis menjadi pusat perhatian seperti dulu. Bukan berarti olahraga ini mati, tetapi persaingan untuk merebut perhatian publik jauh lebih ketat.
Namun, terlepas dari semua itu, Piala Dunia tetap Piala Dunia. Sulit untuk benar-benar mengabaikan turnamen sebesar ini.
Masih ada Lionel Messi yang datang sebagai juara bertahan. Masih ada Cristiano Ronaldo atau “Bang Dodo” bagi banyak fans Indonesia yang terus mengejar mimpi mengangkat trofi terbesar dalam kariernya. Dan masih akan ada kejutan yang membuat kita kembali jatuh cinta pada sepak bola.
Mungkin yang berubah bukan Piala Dunianya, melainkan kita. Dulu kita menontonnya sebagai remaja penuh semangat, sekarang sebagai orang dewasa dengan beban hidup yang lebih kompleks. Tapi barangkali, justru di situlah indahnya sepak bola. Ia selalu punya cara untuk menghidupkan lagi emosi yang sempat redup.
Semoga saja Piala Dunia 2030, 2034, dan seterusnya bisa mengembalikan vibe yang dulu pernah kita rasakan. Dan siapa tahu, suatu hari nanti “King Indo” benar-benar tampil di panggung terbesar dunia.
Kalau itu terjadi, mungkin hype Piala Dunia di Indonesia akan meledak seperti belum pernah terjadi sebelumnya.
Sumber foto: FIFA

