
Di tepi barat ekstrem Bulan, tepat di perbatasan dengan sisi jauh Bulan, terdapat sebuah bentang alam raksasa selebar hampir 600 mil yang nyaris sepenuhnya luput dari pandangan Bumi.
Sebuah benda raksasa mirip asteroid pernah menghantam kerak Bulan, melemparkan cincin pegunungan ke segala arah dan membentuk cekungan kolosal yang kemudian terisi dan tertutup lava gelap. Jejak hantaman itu masih terlihat hingga kini, menjadi bekas luka yang mengabadikan bencana purba tersebut.
Melalui kamera wahana pengorbit, Mare Orientale—yang dalam bahasa Latin berarti “Laut Timur”—terlihat jelas sebagai fosil kekerasan, geometri, dan waktu.
Namun, meski ukurannya sangat besar, lokasinya membuat fitur Bulan ini lama menjadi “paus putih” bagi umat manusia—sesuatu yang sulit dijangkau dan belum pernah benar-benar dilihat.
“Orientale belum pernah dilihat oleh mata manusia,” kata Reid Wiseman, komandan misi Artemis II NASA.
Dalam misi bersejarah mendatang—yang menjadi misi pertama yang mengirim manusia ke ruang angkasa dalam selama 50 tahun—astronot Wiseman, Victor Glover, Christina Hammock Koch, dan Jeremy Hansen akan mengelilingi Bulan menggunakan kapsul Orion.
Bergantung pada hasil uji akhir dan kondisi cuaca, NASA dapat meluncurkan wahana ini paling cepat pada 6 Februari. Saat awak melintas di sisi jauh Bulan—belahan yang tidak pernah menghadap Bumi—para astronot berpeluang melihat lanskap yang belum pernah disaksikan manusia dalam cahaya Matahari.
Dengan para astronot Apollo 8 yang pertama kali melihat sisi jauh Bulan pada 1968, Artemis II bukanlah misi pertama dengan sudut pandang ini. ‘Namun kali ini, periode peluncuran, jalur penerbangan, dan kondisi pencahayaan permukaan Bulan dapat memungkinkan awak mempelajari bagian-bagian Bulan yang belum pernah dilihat manusia secara langsung, menyingkap detail halus permukaan yang sebelumnya tersembunyi dalam misi-misi terdahulu.
Sisi jauh Bulan
Belahan sisi jauh Bulan dulu dijuluki “sisi gelap” karena manusia belum pernah melihatnya. Sebutan keliru ini membuat banyak orang salah mengira bahwa sisi jauh selalu diselimuti kegelapan—kesalahpahaman yang masih bertahan hingga kini. Padahal, belahan ini menerima jumlah cahaya Matahari yang sama dengan sisi dekat.
Manusia hanya bisa melihat sisi dekat karena sebuah kebetulan astronomis. Bulan, yang berjarak sekitar 250.000 mil dari Bumi, membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mengorbit Bumi.
Untuk berputar satu kali penuh pada porosnya, Bulan juga memerlukan waktu yang kurang lebih sama. Hingga Oktober 1959, saat program antariksa Uni Soviet mengitari Bulan dengan wahana robotik Luna 3 dan memotret gambar-gambar buram, tak seorang pun tahu seperti apa sisi lainnya.
Awak Apollo hanya mendapat pandangan singkat sisi jauh saat mereka mengelilingi Bulan. Jadwal peluncuran diatur agar sisi dekat—tempat mereka mendarat dan menjelajah—terang oleh sinar Matahari. Namun itu biasanya berarti sisi jauh berada dalam bayangan atau hanya diterangi sabit tipis.
Sebagai perbandingan, Artemis II berpeluang besar melihat sekitar 60 persen sisi jauh yang belum pernah dilihat mata manusia. Hal ini penting, kata para pemimpin misi, karena meski sudah ada banyak citra wahana robotik, tak ada yang mengalahkan pengamatan langsung.
Lagipula, menghadirkan manusia—bukan hanya mesin—adalah tujuan utamanya.
“Kebanyakan orang mengira Bulan hanya berwarna abu-abu,” kata Jacob Bleacher, kepala ilmuwan eksplorasi NASA. “Padahal mata manusia bisa menangkap detail dalam jumlah yang luar biasa.”
Tiga jam penuh pengamatan
NASA berencana memaksimalkan kesempatan tersebut. Meski tidak akan menjejakkan kaki di Bulan, para astronot Artemis II telah menerima pelatihan geologi dan sains agar tahu apa yang perlu dicermati ketika Bulan memenuhi jendela Orion.
Selama penerbangan, mereka berharap dapat menghabiskan tiga jam penuh yang sepenuhnya didedikasikan untuk pengamatan. Mata mereka akan menyapu medan sisi jauh, mempelajari variasi gradasi abu-abu. Nuansa halus terang-gelap permukaan ini dapat memberi petunjuk tentang jenis dan usia batuan yang berbeda.
NASA memperkirakan awak akan bergantian antara mengamati langsung, memotret dengan kamera, dan mendeskripsikan apa yang mereka lihat kepada pengendali misi di Houston. Mereka akan membawa daftar panduan dari tim sains mengenai area yang perlu diperhatikan, namun juga diberi kebebasan untuk mengeksplorasi sesuai keinginan.
“Bulan akan terlihat kira-kira seperti memegang bola basket dengan tangan terentang,” kata Bleacher, “jadi mereka bisa melihat sebagian besar Bulan, kalau bukan seluruhnya.”
Lokasi pendaratan Artemis di masa depan
Para ilmuwan meyakini banyak hal bisa dipelajari dari sisi jauh. Sisi dekat memiliki area gelap luas yang disebut maria, yang bersama-sama menyerupai wajah “manusia di Bulan”. Ketika lava mengisi kawah-kawah purba, banyak kawah lain—yang menyimpan catatan sejarah geologi Bulan—ikut terhapus. Di sisi jauh, bercak gelap ini jauh lebih sedikit, mengisyaratkan catatan tumbukan kosmik yang lebih murni.
Dalam perlombaan antariksa NASA dan Uni Soviet, tak satu pun misi pernah mendarat di sisi tersembunyi ini—bahkan secara robotik—karena tantangannya yang besar. Bulan sendiri menghalangi komunikasi antara pengendali di Bumi dan wahana di sisi seberangnya.
Namun pada 2018, China menempatkan satelit relay komunikasi sekitar 40.000 mil di luar Bulan untuk memungkinkan pertukaran sinyal. Pada tahun yang sama, China berhasil menjadi negara pertama yang mendaratkan wahana tanpa awak di sisi jauh Bulan.
Pengamatan Artemis II tidak hanya berpotensi memperkaya pemahaman ilmuwan tentang sejarah tata surya, tetapi juga membantu memilih lokasi pendaratan misi-misi berikutnya serta mengidentifikasi target sains yang menarik. Misi ini bisa saja mengubah piringan abu-abu yang akrab menjadi sesuatu yang terasa baru kembali.
“Kami berharap ini bukan ‘sisi gelap’,” kata Koch, merujuk pada julukan lama yang menyesatkan. “Kami berharap ini adalah sisi jauh yang terang.”

